(Sumber: https://pesona.travel/keajaiban/3603/ceprotan-saling-lempar-cengkir-tanda-saling-membantu)
Indonesia dikenal memiliki kebudayaan yang telah mengakar sejak ratusan tahun yang lalu saat masih menyandang sebutan Nusantara. Hampir di setiap daerah di Indonesia pasti mempunyai latar belakang budaya yang kuat, seperti folklor hingga sejarah peradaban. Sekian banyak daerah yang terkenal akan budaya, Pacitan hadir dengan keunikan tersendiri.

Sejarah Kabupaten Pacitan

Kabupaten yang terletak di selatan Jawa Timur, berbatasan langsung dengan Jawa Tengah dan Laut Selatan menghadirkan banyak budaya yang patut diperhatikan. Namun, Anda harus menyadai bahwa budaya tidak bisa lepas dari sejarah sebuah daerah. Untuk itu, sebelum menggali lebih dalam perihal budaya di Pacitan, setidaknya kami sampaikan mengenai sejarahnya.

Daerah yang terkenal akan wisata pantai dan gua hadir sejak tahun 1613 Masehi, yang dibuktikan dengan penulisan babat Momana. Sejarah Kota 1001 Gua dimulai sejak kehadiran Ki Buwanakeling, seorang utusan Raja Brawijaya untuk datang ke daerah perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah pada abad ke-12 Masehi. Selang sekian waktu keturunan Ki Buwanakeling menjadi penguasa sampai 4 generasi.

Kepercayaan agama Islam mulai masuk ke Pacitan, yang menyebabkan Ki Buwonokeling ke-IV merasa keberataan. Alhasil, Kyai Ageng Petung, salah satu penyebar agama Islam di Jawa berhadapan dengan Ki Buwonokeling ke-IV sehingga terjadilah peperangan.

Singkat cerita, penggunaan nama Pacitan berasal dari Pace, yakni Pace atau Mengkudu. Penyebutan nama Pacitan pertama kali oleh Raja Mangkubumi yang dapat sembuh oleh air buah pace saat dia lumpuh.

Selang sekian abad, Pacitan mulai tumbuh sebagai daerah yang mempunyai sejarah panjang. Pada masa kerajaan, Pacitan selalu dijadikan tujuan oleh Raja Jawa sebagai tempat menyepi. Selain itu, Kabupaten yang terkenal akan produksi batu akik beberapa tahun yang lalu menjadi saksi bisu pengejaran Belanda terhadap Jenderal Sudirman.

Upacara Ceprotan Hadir sebagai Bukti Perjalanan Desa Sekar Kabupaten Pacitan Masa ke Masa

Setelah membahas perjalanan singkat Kabupaten Pacitan, sudah saatnya kami mengulas perihal kebudayaan yang lekat oleh masyarakat pesisir Pantai Selatan, yakni Upacara Adat Ceprotan. Acara ini sudah menjadi tradisi warga Pacitan Desa Sekar, Kecamatan Donorojo yang dilakukan setiap tahun pada bulan Dzulqaidah (dalam bulan Jawa disebut Longkong), tepat di hari Senin Kliwon.

Tradisi Ceprotan ini dimaksudkan untuk mengenang pendahulu Desa Sekar, Kecamatan Donorojo, yaitu Dewi Sekartaji melalui agenda bersih desa. Tradisi ini diyakini oleh masyarakat setempat mampu menjauhkan desa dari bala dan menyuburkan tanah. Berada di Desa Sekar, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan Anda hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk sampai. Jarak dari pusat kota kurang lebih 40 km dari barat Kabupaten Pacitan.

Mekanisme pelaksanaan tradisi Ceprotan dimulai dari arak-arakan kelapa muda yang digunakan sebagai media ceprotan yang dibawa menuju tempat pelaksanaan upacaya. Kelapa muda ini diletakkan di keranjang bambu dan dibawa oleh pemuda Desa Sekar menuju tanah lapang, tempat menyelenggarakan upacara adat.

Nuansa sakral mulai terasa saat beberapa warga mulai mengumpulkan ayam serta seorang kepala desa yang menyertakan kepala dusun sebagai pemimpin upacara. Puncak dari upacara adat Ceprotan sejak sore, sekitar pukul 15:00WIB hingga matahari terbenam. Para pengunjung akan menikmati sajian Tari Surup (red—terbenamnya matahari dalam bahasa Jawa). Selanjutnya seorang yang ditunjuk sebagai juru kunci akan merapalkan doa, dan para lurah desa akan menampilkan diri laiknya Ki Godeng, sedangkan para istrinya berperan sebagai Dewi Sekartaji.

Dilansir dari https://pacitanku.com/2012/12/07/upacara-ceprotan-pesta-rakyat-sarat-makna/, sebelum upacara dimulai ketua adat membaca doa. Penampilan sendratari sebagai pembuka menghadirkan cerita perjumpaan Ki Godeg dengan Dewi Sekartaji. Pemuda-pemuda dibagi menjadi dua kubu yang berada di sembarang tempat. Nantinya keranjang berisikan kelapa muda yang sudah dikuliti dan direndam sekian waktu agar tempurungnya lunak diletakkan ke masig-masing kubu. Mereka akan berhadapan dengan jarak sekian meter sehingga akan hadir ajang lempar-melempar kelapa muda.

Setelah perbekalan sudah siap, dua kubu akan saling melemparkan kelapa muda. Setiap orang yang terkena lemparan hingga kelapa pecah konon airnya dianggap mampu memberikan kelancaran rezeki. Dengan kata lain, semakin sering terkena lemparan hingga air kelapa muda membasahi tubuh, dipercaya rezeki akan semakin melimpah. Tidak hanya dua kubu tersebut yang bakal terkena lemparan kelapa muda, penonton pun acap merasakan hantaman sehingga memunculkan keriuhan tersendiri.

Lantas ayam panggang yang ada di tengah arena tidak diperebutkan tetapi disimpan sebagai hidangan bersama-sama setelah akhir upacara. Sesudah semua kelapa muda habis, maka kegiatan saling lempar ikut dihentikan. Nah, penamaan ceprotan ini berdasarkan dari proses lempar kelapa muda yang pecah setelah mengenai sasaran. Setelahnya, ketua adat akan membaca doa kembali.. Setiap akhir upacara Ceprotan hadir tari-tarian singkat yang untuk mengiringi kepergian pemuda yang sudah melakukan ritual Ceprotan.

Seperti yang kami jelaskan di awal tadi, bahwa tradisi upacara Ceprotan ini berdasarkan perkembangannya dilakukan setiap tahun bula Dulkaidah. Pemilihan hari tidak asal-asalan, yaitu pada hari Senin Keliwon atau Minggu Kliwon. Dipercaya bahwa bulan dan harus tersebut berdasarkan Ki Godeng melakukan babad alas tepat pada bulan dan hari itu. Akhirnya, tetuan desa yang mendapatkan kisah ini secara turun-temurun menyepakatinya.

Sekalipun sejarah Ceprotan ini tidak berkorelasi dengan budaya lain, kini kesenian Reyog Ponorogo dan Tari Jathilan ikut meramaikannya. Para pengunjung seolah-olah dimanjakan dengan gelaran kesenian Kabupaten Ponorogo yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pacitan. Bisa dibilang, sosial kultural dua kabupaten ini tidak jauh berbeda karena sama-sama dari Jawa Timur Mataraman.
Kisah Pertemuan Ki Godek dengan Dewi Sekartaji

Pada artikel di https://pacitanku.com/2012/12/07/upacara-ceprotan-pesta-rakyat-sarat-makna/ bahwa Ceprotan didapat dari beberapa sumber asal-muasalnya. Beberapa ratus tahun yang lalu, ketika sebagian besar daerah di Jawa Timur bagian selatan berupa hutan belantara dan belum terjamah, datanglah seorang Ki Godek ke daerah Pantai Selatan. Ki Godek berniat membuka hutan tersebut untuk digunakan pedepokan, tanah pertanian, dan rumah tinggal. Melalui kesaktian yang dimiliki, serta keberanian dan ketabahan, Ki Godek mulai membabad hutan belantara tersebut.

Saat hampir selesai membuka arena hutan, Ki Godek didatangi oleh dua perempuan. Ternyata kedua perempuan tersebut adalah Dewi Sekartaji dan Dewi Sukonandi yang berasal dari Kediri. Terjadilah perbincangan antara Ki Godek dengan dua perempuan tersebut. Karena sudah menempuh jalan sekian meter, Dewi Sekartaji dan Dewi Sukonandi meminta izin kepada Ki Godek untuk beristirahat sesaat sembari berbincang-bincang.

Faktor lelah membuat dua perempuan tersebut sangat haus. Dewi Sekartaji meminta tolong kepada Ki Godek untuk mencarikan air kelapa muda untuk mereka minum. Selama membabad hutan ternyata Ki Godek sama sekali tak menjumpai adanya pohon kelapa. Mau tidak mau dia mencarinya sampai di tepi pantai selatan, yang kini bernama Desa Kalak.

Akhirnya Ki Godek membawa air kelapa untuk dua perempuan yang sudah menanti. Barangkali saking hausnya, Dewi Sekartaji tidak menyisakan setetespun air dan membuang batok kelapa ke suatu tempat, yang sekarang dikenal sebagai Desa Sekar.

Demikianlah informasi tentang budaya Ceprotan di Desa Sekar Kabupaten Pacitan. Kami harap setelah membaca artikel ini Anda bisa menemukan berbagai makna filosofis demi kebahagiaan hidup selanjutnya. Terima kasih.