(Sumber: https://medium.com/personal-growth/i-chose-to-die-and-lived-to-tell-73111f1353cc)



Siapa yang menyangka jika mengakhir hidup merupakan kemerdekaan. Ya, kemerdekaan atas hak yang dimiliki setiap individu dan kita patut berempati atas jalan yang mereka inginkan.
Kita tidak saling tahu apa yang dirasa, dikeluhkan, dan dikhawatirkan oleh seseorang. Kita tidak akan pernah tahu sebab-sebab apa yang dialami oleh seseorang hingga mereka memilih membunuh diri sebagai obat atas kekalutan yang tak terselesaikan.
Bunuh diri atau membunuh diri selalu berkaitan dengan depresi. Depresi merupakan tingkat selanjutnya dari stres. Dilansir dimensiimajinasi.blogspot.com, (30/6/2014), jika seseorang mengalami stres berkepanjangan dan tak kunjung reda, dia bakal jatuh ke fase depresi.
Masalah ini kerap diabaikan oleh banyak orang karena mereka beranggapan jika depresi dapat hilang dengan sendirinya setelah menemukan sesuatu yang mampu membawa kesenangan. Padahal, depresi tidak akan hilang meski si penderita telah menemukan kesenangan. Depresi akan muncul lagi setelah kesenangan yang diperoleh lamat-lamat menjadi sebuah kebosanan. Nah, bagi seseorang yang mengalami depresi, umumnya mengalami gangguan yang meliputi motivasi hidup, emosi, fungsional, dan tingkah laku sebagai kongnisi.
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan oleh pihak manapun, perilaku membunuh diri identik dengan masa lalu. Masa lalu yang saya maksud, seperti pengalaman pahit atas perceraian orangtua, menjadi korban perundungan, kekerasan seksual, dan ingatan masa silam lainnya. Namun, tidak menutup kemungkinan seseorang membunuh diri dengan masa lalu yang menyenangkan.
Ringkasnya, sebuah kebosanan akan hidup yang selalu begitu-begitu saja kerap menggiring seseorang untuk melakukan bunuh diri. Sebagai contoh, pemikiran tentang jenjang kehidupan: Lahir-Sekolah-Kerja-Menikah-Memiliki keturunan. Sesederhana itu? Ya, memang seperti itu hidup! Lalu, apa yang diperoleh seseorang jika sudah melakukan jenjang kehidupan tersebut? Mati? Berbahagia? Atau Kalah?
Segala pertanyaan tanpa jawaban yang benar-benar “menyelamatkan” perihal koridor kehidupan bakal membosankan bagi mereka. Nah, berkat kebosanan tersebut, perlahan api kecil akan membesar dan siap membakar tumpukan jerami.
Begitu juga dengan orang-orang yang saban waktu bergelut di bidang kreatif. Mereka, cenderung lebih peka terhadap nilai-nilai kehidupan dan fungsi kehidupan karena rutinitasi sehari-hari bergelut dengan indra perasa. Oleh sebab itu, orang-orang kreatif acap mengalami “penyakit jiwa” atau negative capability, yang menjadi kapabilitas atas kegelisahan yang menaungi orang kreatif.
Nah, lewat kegelisahan yang dirasa saban waktu saat berkarya, mereka bakal menanyakan soal tujuan hidup maupun tujuan berkarya: untuk eksistensi, untuk menyelamatkan hidup, atau untuk membunuh kebosanan. Kondisi macam ini demikian paradoks: mereka amat peka dengan nilai kehidupan, sedangkan di lain sisi mereka tersakiti atas pertanyaan tentang tujuan hidup dan fungsi karya yang mereka kerjakan.
Baiklah, terlepas dari uraian di atas, biarkan saya menulis lebih serius perihal konsep diri sebagai titik awal menyelamatkan diri dari keinginan membunuh diri. Memahami  konsep diri merupakan upaya terbaik untuk menyelamatkan diri maupun menyelamatkan seseorang dari tindakan mengambil hak atau kemerdekaannya (membunuh diri).
Pertanyaan semacam “Siapa saya?”, “Untuk apa saya hidup?”, “Mengapa saya tidak mengenali diri sendiri?” merupakan kewajaran bagi manusia dalam menjalani dinamika kehidupan. Namun, semakin sering manusia mempertanyakan hal tersebut, dia semakin hilang atas jati diri yang dimiliki, jika tidak ada seseorang yang mampu memberi jawaban.
Sesuai tulisan di dosenpsikologi.com (7/4/2017), konsep diri seseorang terdiri atas banyak hal, seperti yang dipikirkan, dipresepsikan, dan diyakini tentang dirinya. Begitu juga dengan skema dari konsep diri yang terdiri atas diri masa lampau (past self), diri masa kini (present self), dan diri masa depan (future self).
Konsep diri berbeda dengan harga diri (self esteem). Konsep diri bersifat kognitif dan deskriptif tentang diri seseorang, sedangkan harga diri bersifat evaluative dan menyangkut pendapat seseorang tentang dirinya. Jika seseorang mampu mengenali keinginan di masa lampau, masa kini, dan masa depan, meski belum ada penelitian yang menunjukkan perubahan signifikan. Cara ini mampu meminimalisir pertanyaan seputar tujuan hidup, fungsi hidup atau depresi dan rasa sakit atas ingatan masa lalu yang menyebabkan seseorang ingin membunuh diri. Kesadaran akan identitas diri: “Siapa saya?”, kontruksi diri: “Untuk apa saya?”, dan struktur diri ”Bagaimana saya?” merupakan upaya untuk meminimalisir tindakan membunuh diri.
Konsep diri tidak hanya berlaku bagi mereka yang bermasalah dengan gejala kejiwaan. Masyarakat luas patut memahami konsep diri sebagai pencegahan dari dinamika kehidupan yang berubah-ubah. Sayangnya, untuk memahami konsep diri, masyarakat terlanjur memberi stigma buruk bagi korban membunuh diri.
Ingatan saya lari ke tahun 2017, saat Chester, vokalis Linkin Park, memutuskan untuk menjemput kemerdekaannya: membunuh diri. Saya turut berduka dan bermuram durja sewaktu melihat kolom komentar di beberapa media yang mengulas kematian mendiang Chester. Meski ada yang respect terhadap keputusan Chester, tidak sedikit netizen berkomentar negatif, seperti “bodoh”, “pengecut”, “nggak sayang keluarga”, “di akhirat bakal disiksa Tuhan”.
Masyarakat menganggap jika bunuh diri adalah cara paling bodoh. Ketahuilah, dinamika membunuh diri dimulai dari perjuangan yang panjang dan menguras energi, baik itu pikiran maupun fisik. Setiap hari, mereka yang bermasalah dengan kejiwaan, diserang oleh kebencian terhadap diri sendiri, pikiran negatif tentang lingkungan sekitar, dan bosan dengan rutinitas kehidupan.
Saat-saat seperti itu mereka memerlukan wadah agar kasih sayang, harapan hidup, cita-cita tidak lupa jalan pulang. Namun, kasus membunuh diri yang bermula dari depresi yang merupakan masalah yang kompleks. Kalian tidak tahu jika mereka memiliki luka sejak masa kecil, inner self critique yang terlampau banyak, trust issue yang besar sehingga memilih diam daripada bercerita kepada siapapun.