Sumber gambar: https://cdn-image-beta456.hipwee.com/wp-content/uploads/2016/09/hipwee-judul.jpg

Hal menyebalkan sebagai seorang freelance selain persoalan deathline terbatas, ada hal lain yang perlu diketahui. Berdasarkan pengalaman saya sebagai seorang freelance, tepatnya penulis artikel di John Writer, hal-hal menyenangkan dan tidak menyenangkan bisa saya peroleh sekali waktu. Tidak ada niat untuk menggiring opini pembaca ke arah penghakiman terhadap John Writer (Papersheets). Namun, lewat tulisan ini saya hanya ingin berbagi cerita. Kalaupun perlu saya lampirkan percakapan yang melibatkan saya dan pemilik John Writer.

Pada awalnya tampak biasa-biasa saja. Saya mulai bekerja sebagai freelance di John Writer terhitung pada bulan Oktober awal. Banyak hal yang saya dapatkan selama bekerja di awal. Urusan pemahaman SEO, dan dunia pemasaran lewat media tulisan dapat saya peroleh dari CV yang beralamat di Kalibata, Jakarta Selatan. Sayang, hal-hal tidak menyenangkan mulai tampak. Pencairan gaji bulan Oktober memang tepat waktu, setiap tanggal 30. 

Nah, pencairan gaji untuk bulan November lambat hingga usia bulan Desember hampir duapuluh hari. Dari pihak John Writer pun membeberkan alasan bahwa terdapat penulis yang mendadak hilang dan menyebabkan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan—oleh penulis yang hilang—malah dilimpahkan ke beberapa pekerja lainnya. Demikian alasan pihak John Writer. Dan saya merasa tak keberatan atau mempermasalahkan hal tersebut, meski harus berkorban banyak; menambah deposit hutang ke kawan-kawan.

Saya kira permasalahan tersebut tidak akan diulangi setelah saya menyanggupi untuk menerima jumlah pekerjaan (job, kamu menyebutnya). Namun prediksi saya benar-benar keliru, malah prediksi kekasih saya yang berhasil. Hingga bulan Januari di angka akhir, pihak John Writer berulang kali memberikan alasan berganti-ganti; faktor penulis kabur yang belum terselesaikan, server bermasalah, perangkat bermasalah, dan si Mbak Sep**a, selaku pengelola John Writer mengatakan berkali-kali sakit dan masuk ke rumah sakit. Baiklah, selama keterlambatan gaji saya beberapa kali masih bisa ngebon gaji.

Hingga pada titik krusial, gaji milik kekasih saya telah tandas, sebab saya meminjamnya hingga menantikan pencairan gaji dari pihak John Writer, ngebon gaji tak lagi bisa. Saya berpikir keras agar tetap bisa menyelamatkan diri di tanah rantau; menjual segala barang yang bernilai. Hingga di titik akhir, gaji milik kekasih saya yang rencana untuk urusan kuliah telah terpakai, dan ia tak meneruskan kuliah. Dan satu hal yang tak habis saya pikir, rekap data yang sudah saya minta sejak awal Januari 2018 hingga detik ini, 22 Mei 2018 tak pernah sampai. Si Mbak Sep**a beberapa kali mengatakan akan mengirim rekap gaji tersebut. Bukan menjadi masalah penting rekap gaji tersebut, tetapi lewat rekap—yang pernah dikirimkan saat pencairan gaji tanpa saya memintanya—gaji itu saya bisa mengatur berapa rupiah yang bisa saya kelelola; urusan makan, biaya ganti hutan, dan lain sebagainya. Meski, saya kira-kira, sisa gaji yang tak atau belum cari nominalnya tidak terlalu besar, tetapi lewat nominal itu saya bisa mengurus dan melanjutkan hidup di perantauan sekaligus meminta hak sebagai pekerja. Bukakah seperti itu?

Barangkali saya terlalu berlebihan hingga menulis permasalahan ini ke laman blog. Ya, tak masalah. Silakan berpendapat. Hal lain yang membuat saya tak respon lagi ke pihak John Writer adalah ketidakketerbukaan faktor keterlambatan. Atau, paling tidak menjelaskan lebih spesifik. Berkali-kali selalu ganti alasan. Demikian juga ketersediaan saya ingin membantu mengerjakan pekerjaan pun ditolak dengan anggapan tidak enak kepada saya. Coba dipikirkan, lebih tidak enak gaji tak kunjung turun hingga kini atau faktor pengerjaan pekerjaan (job)?

Pada intinya saya hanya menagih, toh saya berhak mendapatkan jerih payah saya bekerja. Meski tidak ada hitam di atas putih, kali ini saya dapat belajar bahwa bekerja secara professional di John Writer atau Papersheets, namun urusan pembayaraan sifatnya kekeluargaan.

Sebagai pembelajaran, kali ini saya berusaha meminimalisir pekerjaan yang sifatnya freelance. Bukan bermasud berpikiran buruk, toh hingga detik ini saya berkerja sebagai freelance di media yang lebih sehat. Pemilihan secara selektif amat perlu demi memperoleh hak sebagai seorang pekerja. Keterlambatan pencairan gaji paling masuk akan hanya sampai sepuluh hari, selebihnya siap-siap cari alernantif untuk menyelamatkan diri.

Lewat tulisan ini semoga kalian tak akan mengalami hal konyol ini. Toh di https://www.papersheets.site/lowongan-kerja-penulis/ dan https://twitter.com/jasaartikelsrg hingga kini masih tersedia lowongan kerja penulis freelance. Semoga tak bermasalah. O, ya, tujuan saya menulis ini bukan bermaksud menjelek-jelekkan salah satu pihak. Meski kelewat batas saja pikiran lucu ini. Hingga berbuah tulisan ini. Selamat membaca dan silakan mendaftar sebagai penulis freelance yang bisa mendapatkan gaji.

Semarang, 22 Mei 2018
Afriza Y. Ardias