Dek, ingatan dan usai saling berjalan dengan segala perbedaan yang tak nampak; mereka menemukan ruang, lalu berbincang tanpa pernah saling berjumpa. Dan aku pun tak paham betul sejak kapan usia makin padat di pojok hubungan ~antara dirimu dengan ranah sosial. Pun usia tak selalu memperlihatkan jati diri miliknya karena pengungkapan kasat mata merupakan bagian yang tak terpisahkan.
Usia bukan sosok khayalan, bukan pula lukisan yang berhasil menabrak sebagian dimensi. Namun, usia merupakan titik-balik di saat ingatan semakin mempertegas bahwa dirimu layak diperhitungkan dalam koloni bernama kelangsungan hidup. Satu-satunya alasan yang membuatku menjadi sosok kritikus ialah keinginan untuk saling berbagi perihal intropeksi diri dan hidup. Tak melulu bertambahnya usai selalu repot dengan kejutan, kue, bunga, bahkan telur atau bahan makanan yang sengaja dibuang demi tawa sesaat. Tanpa disadari, masih ada pihak yang membutuhkan ragam makanan yang dijadikan “ritual” bertambah usia, maka keputusanku tak berpaling dari kesetiaan doa dan tak perlu melakukan “ritual” macam itu. Sebelum aku melakukan “ritual”, ketakutan mengenai tendensi bila perilaku macam itu sekadar menawar bahagia sesaat, sedangkan seorang ibu tengah menerbangkan doa untukmu, ku, dan mereka. Maka, ucapan bahagia yang benar-benar menawarkan ruang tanpa biaya sewa berasal dari keluarga. Bahwa kesimpulan yang nyata ialah aku tak mampu melakukan ritual tersebut bila diriku belum mampu melakukannya (ritual) kepada ibu dan bapakku.
Dek, waktu telah mengorbankan segala perhatiannya padamu ketika tubuhmu berhasil mengangkat ragam bentuk nada otoriter dan menjadikannya lecutan demi menulis cerita pendek milikmu. Pun dalam ritual bertambah usia, entah manusia berhak berbahagia dengan bertambahnya usia atau merana kerna sadar jatah usia yang diberikan lambat-laun ‘kan tergerus lalu hilang. Aku, pun dirimu ~barang tentu~ tak ingin hilang tanpa bekas ketika usia bertambah dan hidup makin berkurang, melainkan hilang dengan meninggalkan keabadian untuk generasi yang akan menikmati sisa hidup di bumi yang kini dihuni makhluk egois. Makhluk yang mendambakan perang dan cacian. Percayalah, wajah-wajah yang bertengger di lamunanmu merupakan wajah yang bersedia menerimamu dan memberikan ruang kosong tanpa perlu meminta biaya sewa, mereka bukanlah kontrakan yang berakhir dengan kata “tinggal”.
Tepat di angka sepuluh bulan ke sepuluh; dua puluh satu tahun yang lalu, sepasang suami-istri rela mencengkeram baju yang tak pernah mengkhianati mereka, bahwa kelahiran seorang bocah ke dunia merupakan pertemuan dengan segala konsekuensi yang tak perlu menciptakan sandiwara untuk mereka berdua.
Ya, namamu telah mereka rencanakan di angka dua demi mencipta kesaksian liar dan kelak ‘kan menuai bahagia. Amin. Semoga, ketika dirimu mempertahankan keinginan tanpa mencederai pihak lain, maka lekas turunlah hasil yang tak pernah mencederai usaha dan doa.


Semarang, 10 Oktober 2016
Afriza. Y. Ardias.
untukmu, Dwi Octaviani

: tahun lalu, ucapan atau rekonstruksi ingatan perihal usia dapat kulakukan dengan penampilan ~kolaborasi atau respon puisi-tari~ bersama. Tak masalah. Bila memintamu untuk melempar koin dan menikmati es cream setidaknya berbicara banyak hal tentang ingatan. Terima kasih